I.
PENDAHULUAN
Mikroorganisme
adalah organisme uniseluler berukuran
sangat kecil, (< 1 mm) sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat
bantu penglihatan (Kusnadi, et al., 2003). Faktor fisiko kimia lingkungan,
termasuk salinitas mempengaruhi
keberadaan mikroorganisme dimana suatu mikroorganisme memiliki kemampuan
beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya dalam melangsungkan aktivitas
kehidupan meliputi pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi (Darkuni,
2001).
Mikroorganisme
meliputi bakteri, yeast, kapang, jamur, prokariota, protista dan alga
uniseluler (Brock et al., 1994). Salah satu habitat mikroorganisme adalah akar
tanaman (rhizosfer) (Brock et al., 1994). Rhizosfer kaya akan eksudat yang
dikeluarkan oleh tanaman melalui proses sekresi akar. Kandungan eksudat antara
lain adalah karbohidrat, asam amino, asam organik, enzim dan senyawa-senyawa
lain (Hoagland et al., 1985; Cheema et
al., 2008). Mikroorganisme memanfaatkan eksudat melalui proses dekomposisi.
Dekomposisi eksudat oleh mikroorganisme menghasilkan energi dan senyawa
prekursor. Senyawa prekursor ini dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme dan
tanaman. Oleh karena itu, keberadaan mikroorganisme menjadi salah satu
parameter produktivitas tanah (Kartasapoetra et al., 1991). Tanah yang berada
dalam kondisi normal mengandung berbagai jenis mikroorganisme (Schlegel dan
Schmidt, 1994).
Mikroorganisme
memiliki peranan penting dalam kehidupan (Darkuni, 2001). Menurut Schlegel dan
Schmidt (1994), mikroorganisme berperan
dalam proses fermentasi, misalnya
Aspergillus niger, penghasil antibiotik, vektor dalam genetika modern
dan peningkat kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen. Contoh bakteri
pemfiksasi nitrogen adalah Azetobacter, Clostridium, Rhodospirillum,
Nitrosomonas dan Nitrosococcus
(Dwidjoseputro, 2005). Selain itu, mikroorganisme juga berperan sebagai
dekomposer yang mendekomposisi bahan organik menjadi materi inorganik sehingga
dapat mengurangi kuantitas sampah, menyuburkan tanah dan menjadi sumber nutrisi
bagi tumbuhan (Rao, 1994).
II.
PEMBAHASAN
Tanaman sangat dipengaruhi oleh kesuburan
tanah, dan kesuburan tanah tidak hanya bergantung pada komposisi kimiawinya
melainkan juga pada ciri alami mikroorganisme yang menghuninya. Cabang ilmu
yang mempelajari kehidupan dan kegiatan organisme tersebut dalam tanah disebut
Mikrobiologi Tanah. Mikroorganisme yang
menghuni tanah dapat dikelompokkan menjadi : bakteri, actinomycetes, jamur,
alga, dan protozoa.
1.
Bakteri
Bakteri adalah kelompok mikroorganisme
dalam tanah yang paling dominan dan mungkin meliputi separuh dari biomasa
mikroba dalam tanah.
Macam-macam bakteri :
·
Bakteri Heterotrof : bakteri saprofit dan
bakteri parasit.
Bakteri methanobacterium omelanski adalah
bakteri saprofit yang biasa hidup pada lumpur, yang berperan aktif dalam
mengubah merkuri anorganik menjadi merkuri organik. Bakteri ini berfungi
melarutkan logam berat.
Bakteri pseudomonas cattleyeae adalah bakteri
parasit yang hidup pada tanaman anggrek.
·
Bakteri Autrotrof : bakteri kemoautrotrof dan
bakteri fotoautrotrof
Bakteri metanogenik merupakan bakteri
kemoautrotrof yang hidup di rawa. Dalam metabolismenya bakteri ini menghasilkan
metana dari karbondioksidan dan hidrogen.
Bakteri Nitrosomonas merupakan bakteri
fotoautrotrof aerob yang mengambil udara dan oksigen bebas dan memiliki
kemampuan untuk memecah gula.
Berdasarkan ada atau tidaknya oksigen,
bakteri dibedakan menjadi :
·
Bakteri aerobik : bakteri yang dapat berkembang
dengan kondisi beroksigen. Contoh : Nitrosomonas
·
Bakteri anaerobik : bakteri yang dapat
berkembang dengan kondisi tidak beroksigen. Contoh : Lactobacillus bulgaricus,Clostridium
tetani
·
Bakteri anaerobik fakultatif : bakterinyang
dapat berkembang dengan kondisi beroksigen tetapi mampu melakukan fermentasi
tanpa adanya oksigen. Contoh : Staphylococci, Corynebacterium,
Listeria
Berikut ini
adalah macam-macam bakteri yang berhubungan dalam pertumbuhan tanaman :
1)
Rhizobium
Fungsi rhizobium untuk pertanian dan perkebunan adalah untukmenyuburkan tanah. Bakteri Rhizobium bisa mengikat Nitrogen dari udara. Contohnya adalah Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan.
Fungsi rhizobium untuk pertanian dan perkebunan adalah untukmenyuburkan tanah. Bakteri Rhizobium bisa mengikat Nitrogen dari udara. Contohnya adalah Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan.
2)
Azospirillum
Bakteri ini memiliki kemampuan menambah N2 dan menghasilkan fitohormon. Fitohormon adalah hormon tumbuhan yang berupa senyawa organik yang dibuat pada suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut ke bagian lain, yang dengan konsentrasi rendah menyebabkan suatu dampak fisiologis. Fitohormon yang dihasilkan berupa auksin, giberelin, sitokinin dan etilen.
Bakteri ini memiliki kemampuan menambah N2 dan menghasilkan fitohormon. Fitohormon adalah hormon tumbuhan yang berupa senyawa organik yang dibuat pada suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut ke bagian lain, yang dengan konsentrasi rendah menyebabkan suatu dampak fisiologis. Fitohormon yang dihasilkan berupa auksin, giberelin, sitokinin dan etilen.
3)
Azotobacter
Bakteri dari
famili Azotobacteraceae merupakan sebagian besar dari bakteri pemfiksasi
nitrogen yang hidup bebas. Bakteri Azotobacteryang
diinokulasi dari tanah atau biji dengan Azotobacter
efektif meningkatkan hasil tanaman budidaya pada tanah yang dipupuk dengan
kandungan bahan organik yang cukup.Sifat Azotobacter ini
dapat menjelaskan pengaruh menguntungkan yang dapat diamati pada bakteri ini
dalam meningkatkan tingkat perkecambahan biji, pertumbuhan tanaman, tegakan
tanaman, dan pertumbuhan vegetatif.
Nitromonas
dan Nitrosococcus (bakteri nitrit) yang mengoksidasi senyawa amonia
menjadi ion nitrit, dapat menyuburkan tanah.
5)
Nitrobacter
Nitrobacter
(bakteri nitrat) dapat mengubah Nitrit (NO2) yang bersifat
racun pada tanaman menjadi nitrat yang dibutuhkan oleh akar tanaman
6)
Clostridium pasteurianum
Clostridium
pasteurianum, jenis bakteri yang mampu memfiksasi N2 (nitrogen bebas
dari udara) di atmosfer ke dalam tanah, yang kemudian N2 ini akan dimanfaatkan
oleh tumbuhan dalam pembentukan protein.
7)
Rhodospirillium rubrum
Rhodospirillium
rubrum, bakteri yang mampu memfiksasi N2 di atmosfer ke dalam tanah,
yang kemudian akan dimanfaatkan oleh tumbuhan.
2.
Actinomycetes.
Actinobacteria atau Actinomycetes adalah organisme tanah yang
memiliki sifat-sifat yang umum dimiliki oleh bakteri dan jamur tetapi juga
memiliki ciri khas yang cukup berbeda yang membatasinya menjadi satu kelompok
yang jelas berbeda. Bakteri ini pernah diklasifikasi sebagai fungi (jamur, Mycota) karena ada anggotanya yang membentuk
berkas-berkas mirip hifa serta menghasilkan antibiotik. Ketika diketahui memiliki sejumlah
ciri bakteri (ukurannya kecil dan dapat diserang virus bakteriofag), kelompok ini pernah dianggap bukan
fungi maupun bakteri. Baru setelah pengujian DNA dimungkinkan, kelompok ini diketahui sebagai bakteri.
Kebanyakan Actinobacteria ditemukan di
tanah. Sebagian yang lain tinggal di dalam tumbuhan dan hewan, termasuk beberapa patogen seperti Mycobacterium.
Mereka memainkan peranan yang penting
dalam dekomposisi materi organik seperti selulosa dan kitin. Aktivitas ini menambah cadangan hara di dalam tanah dan merupakan bagian penting dari pembentukan humus. Kemampuan Actinobacteria untuk hidup di lingkungan bernutrisi rendah
dan untuk mengonsumsi lognoselulosa (lignin dan selulosa, zat-zat penyusun kayu, biasanya sukar dicerna kebanyakan bakteri tanah) menyebabkan
Actinobacteria mendominasi kawasan bebatuan karst. Pemberian pupuk kandang yang kaya selulosa akan meningkatkan populasi
Aktinobakteri di tanah. Pemupukan amonium atau nitrat yang terus-menerus
menekan populasi karena Aktinobakteri tidak suka pH di bawah 6; sebaliknya, pengapuran untuk menaikkan pH juga
menaikkan populasinya.
Anggota Actinobacteria
kebanyakan aerob, tapi beberapa, seperti Actinomyces
israelii, dapat tumbuh dalam kondisi anaerob. Tidak seperti Firmicutes, kelompok utama lain bakteria Gram positif, Actinobacteria memiliki DNA
dengan GC-content yang tinggi dan beberapa jenis
Actinobacteria memproduksi spora eksternal
Contoh dari Actinobacteria yang berhubungan
dalam pertumbuhan tanaman yaitu frankia.
Frankia adalah
actinomycetes yang mampu menambat nitrogen dan dapat bersimbiosis dengan
tanaman. Jenis-jenis Frankia membentuk simbiosis
mutualisme dengan akar tumbuhan sehingga membantu pertumbuhan tanaman.
3.
Jamur.
Jamur atau cendawan adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang
yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman
bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan
cara vegetatif ada
juga dengan cara generatif. Jamur
menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya.
Setelah itu, menyimpannya dalam bentuk glikogen. Jamur merupakan konsumen, maka
dari itu jamur bergantung padasubstrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia
lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof,
jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit
Cara hidup jamur lainnya adalah
melakukan simbiosis
mutualisme. Jamur
yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga
menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis
mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar
tanaman kacang-kacangan atau pada liken. Jamur berhabitat pada bermacam-macam
lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme.
Segala faktor lingkungan yang
mempengaruhi penyebaran bakteri dan actinomycetes juga mempengaruhi penyebaran
jamur dalam tanah. Kualitas dan kuantitas bahan organik yang ada dalam tanah
mempunyai pengaruh langsung terhadap jumlah jamur dalam tanah karena kebanyakan
jamur itu nutrisinya heterotrofik. Jamur dominan pada tanah yang asam karena
lingkungan asam tidak baik untuk bakteri ataupun actinomycetes sehingga jamur
dapat memonopoli pemanfaatan substrat alami dalam tanah. Jamur juga ada dalam
tanah yang netral atau bersifat basa dan beberapa dapat tetap hidup dalam pH
diatas 9,0. Tanah yang baik untuk ditanami mengandung banyak jamur karena jamur
bersifat aerobik dan pada kelembaban tanah yang terlalu tinggi jumlahnya
menurun.
Secara
umum, jamur diklasifikasikan menjadi:
1.
Phycomycetes, anggota Phycomycetes memiliki
miselium yang tidak bersekat dan bersel satu serta memiliki kantung dan berisi
spora yang disebut sporangia.
2.
Ascomycetes
3.
Basidiomycetes, dan
4.
Fungi Imperfecti
Beberapa contoh
dari jamur yang berhubungan dalam pertumbuhan tanaman yaitu:
1)
Chytrdiomycetes
Chytrdiomycetes merupakan
cendawan yang hidup terutama dalam air, beberapa anggota dapat ditemukan di
atas tanah. Ukurannya mikroskopik. Dinding sel nampak terdiri dari kitin. Di
antaranya banyak yang parasit pada ganggang plankton dan tumbuh-tumbuhan air.
Yang mempunyai arti ekonomi sebagai parasit pada tumbuhan kultur dapat disebut Synchytrium
endobioticum, penyebeb tumor kentang, Rhizophidium pollinis Suatu
parasit pada tepung sari pinus merupakan onyek yang disukai untuk demonstrasi.
2)
Oomycetes
Oomycetes adalah kelompok cendawan
yang hidup dalam air dan tanah, cendawan-cendawan ini aseksual, yang
memperkembangkan diri dengan zoospora, Saprolegnia dan Leptomitus terkenal
sebagai cendawan air dan hidup dalam air. Peronosporales telah
meningkatke hidup di atas tanah. Cendawan ini parasit obligat yang seluruh
perkembangannya berlangsung dalam tumbuh-tumbuhan. Meskipun demikian
cendawan-cendawan ini masih membentuk zoospora. Termasuk dalam kelompok
cendawan ini parasit-parasit yang apling merugikan: Phytophthora infentans sebagai
penyebab pembusukan daun dan umbi kentang, dan Plasmopara viticola penyebeb
jamur palsu ranting anggur .
3)
Saproglenia
Saproglenia tersebar luas dan mudah diisolasi dan dikultivasi. Dengan metode
umpan dapat dibuat biak pengkayaan cendawan ini kalau diletakkan seekor lalat
mati dengan sayap dan kakinya direntangkan ke bawah di atas permukaan air
telaga dalam cawan, maka dalam waktu beberapa hari lalat diliputi oleh hifa dan
sporangium. Pembentukan sporangium dan melenyapnya zoospora dapat mudah diikuti
dengan mikroskop.
Yang menarik perhatian ialah bahwa Saprolegnia dan genus-genus
serumpun dijumpai diplani. Terjadi dua tahap kerumunan secara berturut-turut.
Zoospora primer yang dikeluarkan oleh sporangium menjadi kista sesudah tahap
berkerumun pertama. Kista-kista ini mengeluarkan zoospora kedua yang sesudah
masa berkerumun kedua kembali menjadi kista. Baru kemudian kista ini
berkecambah dengan suatu pipa kecambah dan membentuk hifa.
Reproduksi seksual terjadi dengan kontak langsung gametangium dan juga
kontak anteridium dengan oogon. Sebagian besar Saproleginiaceae bersifat
hermafrodit atau homotalus. Kopulasi anteridium dengan oogon terjadi pada benda
vegetasi sama. Oogon berbentuk bulat, memiliki dinding tebal dan mengandung
beberapa telur (oosfer). Anteridium yang lebih kecil dibentuk pada ujung-ujung
hifa dan dalam keadaan matang mengikatkan diri pada oogonium secara bersendiri
atau beberapa buah. Dari anteridium pipa pembuahan didorong menembus dinding
oogon pada oosfer. Hanya satu inti masuk sampai inti telur dan meleburkan diri
dengannya menjadi inti zigot yang diploid. Setiap pembuahan tiap oosfer
meliputi diri dengan dinding tebal dan menjelma menjadi oospora. Sesudah masa
istirahat lama oospora berkecambah dengan sebuah pipa kecambah; pada pristiwa
ini terjadi pembelahan reduksi. Pembentukan sporangium mengakhiri siklus
perkembangannya.
4)
Zygomycetes.
Nama Zygomycetes
(cendawan penghubung) berasal dari jenis perbanyakan diri seksual.,
terutama pembentukan zigospora. Zoenozigot atau zigospora terjadi oleh
peleburan dua gametangium (gametangiogami), yang menghubungkan kedua hifa induk
seperti jembatan atau penghubung (junani zygos). Zigomiset merupakan kelompok
dari Phycomycetes yang derajat perkembangannya paling tinggi dan beralih
ke kehidupan di atas tanah. Cendawan-cendawan ini terbagi lebih lanjut dalam
tiga ordo: Mucorales,
5)
Trichoderma
Jamur Trichoderma
mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, terutama kemampuannya untuk menyebabkan produksi perakaran sehat dan
meningkatkan angka kedalaman akar (lebih dalam di bawah permukaan tanah). Akar
yang lebih dalam ini menyebabkan tanaman menjadi lebih resisten terhadap
kekeringan, seperti pada tanaman jagung dan tanaman hias.
Trichorderma sp. merupakan jamur yang
paling banyak terdapat di dalam tanah dan bersifat antagonistik terhadap jamur
lain. Selain daya adaptasinya luas, Trichorderma mempunyai daya
antagonis tinggi dan dapat mengeluarkan racun, sehingga dapat menghambat bahkan
mematikam patogen lain.
Mikoparasitisme, jamur Trichoderma
merupakan jamur yang bersifat mikoparasit, artinya jamur ini dapat
menghambat pertumbuhan patogen dengan parasitisme. Mekanisme yang terjadi Trichoderma
dapat melilit hifa mikroba patogen, dan jamur ini juga mengeluarkan enzim
yang mampu merombak dinding sel mikroba patogen, sehingga patogen mati.
4.
Alga.
Alga
tanah ada di mana-mana di alam asal lembab dan dikenal sinar matahari. Alga ini
tampak dengan mata telanjang dalam bentuk hamparan hijau pada permukaan tanah.
Dalam hal jumlah alga tidak sebanyak jamur, bakteri atau actinomycetes. Secara
morfologi, alga mungkin berselsatu atau berbentuk benang dan termasuk dalam
famili Chiorophyceae (alga hijau) dan Cyanophyceae (alga hijau-biru). Bentuk
lain seperti diatomjuga ada dalam kondisi lingkungan tertentu. Karena adanya
klorofil dalam selnya, alga bersifat fotoautrof dan mengambil karbon dioksida
dari atmosferdan mengeluarkan oksigen. Alga juga diketahui terdapat di bawah
permukaan tanah dan di luar jangka sinar matahari. Walaupun demikian, jumlahnya
tidaklah sebanyak alga yang ada di permukaan dan mekanisme kelestariannya juga
tidak terlalu jelas. Beberapa dari alga hijau yang umumnya terdapat ditanah
india termasuk dalam genus : Chlorella,
Chalmydomonas, Chlorochytrium, Chlorococcum, Protosiphon dan Oedogonium.
Alga
hijau-biru mengandung sebuah pigmen yang dikenal sebagai fikosianin selain
klorofil yang memberi warna khusus hijau-biru ke organisme-organisme tersebut.
Alga hijau-biru yang dominan di tanah india termasuk genus : Chroococcus, Aphanocapsa, Lyngbya,
Oscillatoria, Phornidium,Microcoleus, Cylindrospermum, Anabaena, Nostoc,
Scytonema dan Fischerella.
Beberapa
alga hijau-biru memiliki sel-sel khusus yang dikenal sebagai heterosista yang
terlibat dalam fiksasi nitrogen. Tanah sawah padi yang tergenang air memberikan
lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan alga hijau-biru tertentu dan peranan
alga demikian itu dalam fiksasi nitrogen dibahas di bagian lain dari buku ini.
Beberapa contoh
dari alga yang berhubungan dalam pertumbuhan tanaman yaitu:
1)
Nostoc commune,
Nostoc commune, Perendaman sawah selama musim hujan
mengakibatkan Nostoc tumbuh subur dan memfiksasi N2 dari udara
sehingga dapat membantu penyediaan nitrogen yang digunakan untuk pertumbuhan
padi.
2)
Anabaena azollae
Anabaena azollae dan anabaena
cycadae bersimbiosis dengan Azolla pinnata dan Cycas
rumphii. Simbiosis Anabaena azollae dengan Azolla pinnata
sebagai alternatif pupuk Urea, karena simbiosis ini dapat meningkatkan kadar
Nitrogen di lahan persawahan. Hidup bersimbiosis dengan Azolla pinnata
( paku air ). Paku ini dapat memfiksasi nitrogen (N2) di udara dan
mengubah menjadi amoniak (NH3) yang tersedia bagi tanaman.
5.
Protozoa.
Protozoa secara umum dapat dijelaskan
bahwa protozoa adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan.
Jadi, protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan
protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di
bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang
berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk
berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek
tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum protozoa.
Contohnya strain mutan algae genus Chlamydomonasyang tidak berklorofil, dapat
dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma. Hal
ini merupakan contoh bagaimana sulitnya membedakan dengan tegas antara algae
dan protozoa. Protozoa dibedakan dari prokariot karena ukurannya yang lebih
besar, dan selnya eukariotik. Protozoa dibedakan dari algae karena tidak
berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta
dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat membentuk badan buah.
Protozoa
hidup dalam tanah dengan memakan bakteri dari genus-genus Aerobacterum, Bacillus, Eschericia, Micrococus, dan Pseudomonas yang dicernanya didalam
protoplasmanya. Protozoa lebih menyukai spesies bakteri tertentu untuk nutrisinya. Sesungguhnya, kultur Aerobacter disarankan sebagai makanan
dasar untuk pemisah dan perbiakan protozoa tanah. Apabila makanan dasar
(bakteri) berkurang jumlahnya dalam tanah, protozoa mensista (membentuk sista)
agar dapat lestari melawan pengaruh berbahay dari temperatur yang tinggi, kekeringan,
penggunaan pestisida, dan sebaginya.
Protozoa
banyak di jumpai pada lapisan batas tanah dan jumlahnya langsung bergantung
pada populasi bakteri. Penggunaan bahan pupuk organik meningkatkan jumlah
protozoa tanah yang merupakan pencerminan adanya peningkatan jumlah bakteri
karena pemakaian bahan organik. Karena studi yang belum banyak dilakukan
mengenai protozoa tanah, kita sulit menentukan pengaruh fakrtor-faktor khusus
seperti pH dan temperatur terhadap populasi protozoa dalam tanah. Walaupun demikian
telah jelas Bahwa protozoa itu banyak sekali dalam tanah dan fungsi utamanya
adalah mengatur jumlah bakteri. Tidak diketahui pengaruh asosiatif antara
protozoa dengan mikroorganisme tanah lainnya karena alasan yang sederhana yaitu
masih sangat sedikit peneliti yang tertrik pada bidang ini, mungkin karena
pemisahan dan perbanyakan protozoa tanah melibatkan prosedur yang sangat banyak
menyita waktu.
KESIMPULAN
Mikroorganisme
adalah organisme uniseluler berukuran
sangat kecil, (< 1 mm) sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat
bantu penglihatan (Kusnadi, et al., 2003). Mikroorganisme yang terdapat dalam tanah antara lain
sebagai berikut :
1.
bakteri,
2.
actinomycetes,
3.
jamur,
4.
alga, dan
5.
protozoa.
Tanaman
sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, dan kesuburan tanah tidak hanya
bergantung pada komposisi kimiawinya melainkan juga pada ciri alami
mikroorganisme yang menghuninya
DAFTAR PUSTAKA
http://satopepelakan.blogspot.com/2010/12/pengaruh-bakteri-pada
pertumbuhan.html (dipost: kamis,9 juni 2012 ; 10.36)
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-9622-1505100040-Chapter1.pdf (kamis,9 juni 2012 ; 10.36)
gak bisa konsen bacanya....abisnya gambar penulisnya bersaing banyak dengan tulisanny
BalasHapusterima kasih .. semoga dapat bermanfaat :)
BalasHapus